Mereka Tidak Tau

SUARA MAMA


Mama pergi tahun 2013. Saya masih 11 tahun. Terlalu kecil untuk memahami kenapa dunia begitu cepat merampas pelukan.

Tetapi sejak itu, saya belajar bahwa hidup bukan sekadar bertahan, hidup adalah perlawanan.

Mama tidak meninggalkan harta. Mama meninggalkan suara.

Suara yang tumbuh di antara jalanan, di antara rakyat kecil yang diperas, di antara petani yang kehilangan tanah, dan orang-orang miskin yang dipaksa diam oleh kekuasaan.

Kini aku mengerti, aksara bukan sekadar rangkaian kata. Ia bisa menjadi batu yang dilempar ke wajah ketidakadilan.

Maka aku menulis.

Menulis untuk mereka yang suaranya dibungkam. Menulis untuk ibu-ibu yang menangis karena dapurnya kosong. Menulis untuk rakyat kecil yang hidupnya selalu dijadikan korban pembangunan.

Dan di setiap tulisan, aku mendengar suara Mama : 

"Jangan takut melawan." Karena perjuangan tidak selalu dengan senjata. Kadang ia hidup dalam tulisan yang menolak tunduk.

https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html

Komentar