- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kita hidup di zaman di mana asap dari cerobong besar menjadi tanda kemajuan. Pabrik beroperasi, mesin berputar, dan kapital terus bertumbuh. Dibalik itu, ada ironi yang tak bisa kita abaikan, demi memastikan dapur tetap berasap, banyak orang terpaksa menyalakan cerobong yang sama meski sadar bahwa asapnya mencekik udara bernama ideologi.
Di ruang publik kita kerap mendengar teriakan tentang kebenaran, keberpihakan, dan perjuangan. Namun di ruang dapur, teriaka itu sering berubah menjadi kompromi. Prinsip yang dulu dijunjung tinggi kini disimpan di laci, digadaikan pada mereka yang mampu menjamin keberlangsungan hidup. Ideologi, perlahan, kehilangan nilai ketika dihadapkan pada harga beras, minyak goreng, dan tagihan listrik.
Renungannya sederhana, apakah manusia bisa hidup dari idealisme semata? Jawabannya tentu tidak. Tapi apakah semua harus dibayar dengan menyerahkan prinsip pada pasar, kekuasaan, dan uang? Di sinilah letak paradoks kehidupan modern, antara bertahan hidup atau mempertahankan keyakinan.
Kritiknya jelas, sistem yang kita jalani hari ini menjadikan kita buruh bagi cerobong besar. Kita dipaksa untuk bekerja, mengabdi, bahkan rela menutup mata terhadap ketidakadilan, asalkan dapur tetap menyala. Yang lebih menyedihkan, keadaan ini dianggap wajar. Seolah-olah ideologi memang pantas dipertukarkan dengan sepiring nasi. https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html

Komentar
Posting Komentar