Mereka Tidak Tau

Aksara Pemberontakan


Di negeri yang sunyi suaranya, katong tumbuh seperti rumput liar yang dipijak, dibabat, tapi seng tunduk.

Katong bukan generasi pengecut yang lahir dari pelukan sistem. Katong anak badai, yang menyusui dari luka, dan tumbuh dari tanah yang diludahi kekuasaan.

Katong seng bawa senjata, tapi tong pung kata menjelma jadi peluru. Tong pung aksara adalah pisau tajam yang siap menyayat kebusukan.

Katong menulis dengan darah, Katong bicara dengan nyala api, Katong melawan dengan kalimat yang meletup seperti bom dalam diam.

"Cukup," tong pung kata. Kata yang sederhana, tapi mengguncang fondasi istana. Kata yang lahir dari perut rakyat yang lapar dan hati yang seng mau tunduk.

Katong lawan seng pake baku hantam, Katong memberontak seng pakai api deng batu. Katong pung perlawanan hadir dalam puisi dan kata kata yang abaikan, Katong bukan perusuh. Katong pemberontak yang mencari makna keadilan.

Katong seng cari ribut. Katong penyair sunyi yang lelah hidup dalam kekosongan demokrasi palsu.

Katong adalah aksara yang memberontak. Katong adalah diksi yang dibungkam. Katong adalah suara-suara yang tumbuh di antara janji manis dan propaganda.

Dan satu hal yang jang kamong lupa:

"Ketika rakyat kehilangan kepercayaan, yang tersisa hanya nyali". Dan ketika nyali tumbuh lebih besar dari rasa takut, maka sejarah akan mencatat bahwa "perlawanan adalah kewajiban. pemberontakan adalah hak"

https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html

Komentar