- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Sekolah pia pia, koi dad para pintar tapi dad matapia yang dahi fa hia dok sama rata" (Sekolah bae bae, jang hanya pintar, tapi jadi manusia yang adil)
Beta yang masih kecili cuma duduk dengar seng tau apa apa, seng tau kalimat itu akan tumbuh seperti pisau di beta pung dada, Di sekolah kasi ajar bagaimana menaklukkan rumus, bagaimana menyusun argumen, bagaimana bicara sopan pada penguasa. Tapi seng ada guru yang pernah tegur ketika beta teman sng makan tiga hari. Seng pernah ada dosen yang sebutkan bahwa di luar kelas yang ber-AC itu, ada anak petani yang bajual hasil bumi deng harga yang murah
Dong selalu ajarkan “kebenaran ilmiah” tapi diam terhadap ketidakadilan nyata. Sekolah menyembah nilai, bukan nilai-nilai.
Beta ingat mama menjahit baju satu malam, tangan penuh deng luka, demi uang yang bahkan seng cukup untuk beli beta buku. Sementara di luar sana anak pejabat yang uang jajan saja cukup bayar beta semester. Guru hanya menatap papan tulis, seng ada perhatian ke perut yang lapar di belakang.
"Adil itu bukan sekadar seng curang," kata mama. "Adil itu berani membela yang seng bisa membela diri."
Sekarang beta paham. Jadi manusia adil itu berdarah. Karena akan dihantam sistem yang nyaman dalam kebusukan. Karena saat bicara benar, dong bilang ose pembangkang. Saat ose membela buruh, dong bilang ose komunis. Saat se menuntut tanah dikembalikan ke petani, dong panggil ose kriminal.
Beta sng mau peduli. Karena beta sekolah bukan untuk jadi cerdas yang pengecut. Beta sekolah untuk membayar utang pada mama, pada para pemilik telapak tangan tebal, pada dorang yang seng pernah masuk buku sejarah tapi hidupnya jadi fondasi negeri ini.
Mama, beta ingat mama pung pateka. Beta sng akan jadi pintar sendiri. Beta akan jadi adil, meski dunia sng suka nanti

Komentar
Posting Komentar