- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
difandidivakara_ Waras di negeri sendiri ternyata butuh usaha yang keras. Bagaimana tidak? Pemerintah daerah sibuk bersandiwara seolah semua baik-baik saja, padahal jalanan berlubang, listriknya sering mati, banjir dimana mana, harga kebutuhan pokok mahal dan lapangan kerja seperti hantu, katanya ada tapi tak pernah kelihatan. Yang lucu, mereka rajin sekali berfoto di acara-acara seremonial, senyumnya lebar seolah sudah menyelesaikan semua masalah. Mungkin mereka pikir rakyat butuh baliho, bukan solusi.
Dan jangan lupa, Cipayung plus, organisasi yang dulu digadang-gadang sebagai motor gerakan mahasiswa. Sekarang? Ah, paling-paling hanya jadi penonton VIP di acara pemerintah. Teriakan lantang mereka yang dulu bikin penguasa gemeter, kini berganti dengan tepuk tangan manis sambil selfie bareng pejabat. Apa kabar idealisme? Mungkin sudah dijual murah di lobi kantor bupati.
Organisasi masyarakat juga tak kalah kocak. Banyak yang awalnya mengaku lahir dari keresahan rakyat, ujung-ujungnya malah jadi calo proyek. Gerakan sosial? Jangan harap. Yang ramai justru postingan di media sosial dengan tagar perjuangan, padahal habis itu ngopi bareng pejabat sambil tertawa-tawa.
Masyarakat? Jangan tanya. Kita dipaksa sabar, dipaksa mengerti, dipaksa percaya bahwa semua ini “demi kebaikan bersama”. Padahal kebaikan itu cuma berputar di lingkaran kecil mereka yang punya kuasa. Rakyat cuma jadi penonton setia di panggung sandiwara, bayar tiketnya pakai pajak, dan disuruh tepuk tangan tiap kali babak baru dimulai.
https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html
Komentar
Posting Komentar