- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Semesta, maafkan kami.
Kami yang mengaku paling berakal,
Justru menjadi tamu paling rakus
di rumah-Mu yang agung.
Kami tebang pohon tanpa pamit,
mencemari sungai hingga tak lagi berbisik,
menyelam di lautan yang kini penuh plastik,
dan membakar bumi dengan ego yang tak
pernah kenyang.
Semesta, maafkan kami.
Langit yang dulu biru kini penuh asap,
gunung yang kokoh mulai tergerus,
dan tanah tempat kami berpijak, perlahan
menangis dalam diam.
Kami lupa,
bahwa kau semesta bukan hanya tempat
tinggal, melainkan ibu yang merawat,
ayah yang melindungi,
dan saudara yang setia mendampingi.
Lihatlah kami kini,
terlalu sibuk membangun mimpi,
hingga lupa menjaga rumah sendiri.
https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html
Komentar
Posting Komentar