Mereka Tidak Tau

Bukan Kota Mati

 

Kota Sanana bukan kota mati. Ia masih bernafas, meski berat. Masih berdetak, walau perlahan. Tapi siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah ini tak bisa memungkiri satu hal Sanana hari ini adalah kota yang berjalan dengan tertatih.

Di pagi hari, debu beterbangan bahkan sebelum matahari muncul sepenuhnya. Siang datang dengan panas menyengat, dan debu makin menggila. Di musim hujan, cerita berubah. Jalanan berubah jadi kolam, lumpur menyambut langkah siapa saja, dan kendaraan harus ekstra hati-hati melewati jalan-jalan yang berlubang seperti permukaan bulan.

Kondisi ini bukan hanya sehari-dua hari. Jalanan rusak yang tak kunjung diperbaiki, drainase buruk yang membuat becek tak pernah absen, serta tumpukan debu yang menjadi teman setia di setiap tikungan jalan, semua ini bukan kebetulan. Semua ini adalah hasil dari diam panjang dan janji kosong dari mereka yang seharusnya bekerja.

Pemimpin daerah saat ini mungkin hadir dalam baliho, hadir dalam spanduk, hadir dalam postingan media sosial, tapi sayangnya, tidak hadir dalam perbaikan nyata. Sanana tidak butuh pencitraan. Sanana butuh aksi. Butuh sentuhan nyata di jalanan, di selokan, di pusat-pusat keramaian, dan di hati warganya yang mulai lelah berharap.

Warga Sanana tidak butuh kota yang mewah. Mereka hanya ingin hidup di tempat yang layak. Tempat di mana anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa harus berjalan di atas genangan. Tempat di mana pengendara motor tak perlu was-was jatuh karena jalan berlubang. Tempat di mana debu tidak menjadi menu harian.

Namun di balik semua ini, Sanana tetap bertahan. Tetap hidup. Karena kota ini bukan kota mati, ia hidup karena warganya yang sabar, yang tetap berjuang, yang tetap berdoa, dan yang tak pernah berhenti mencintai kotanya meskipun pemerintahnya terkesan lupa cara mencintai kembali

Sanana bisa lebih baik. Tapi perubahan tak akan datang dari mereka yang hanya bicara. Ia harus datang dari dorongan masyarakat, dari suara yang tak lelah bersuara, dari tulisan yang tak henti menulis, dan dari mimpi-mimpi kecil yang perlahan ingin menjadikan kota ini layak dihuni.

Karena kami percaya, Sanana bukan kota mati. Ia hanya sedang menunggu untuk dihidupkan kembali oleh pemimpin yang benar-benar peduli, dan oleh rakyat yang tak menyerah.

Kota Sanana




https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html

Komentar