Mereka Tidak Tau

Hujan Bulan Juni dan Jeritan Rakyat

Sindoro, 3153 MDPL : Meratap Negeri yang Pincang

Di negeri ini, bahkan hujan pun bisa terasa getir. Ia jatuh bukan sebagai berkah, melainkan pengingat luka. Sebab air yang turun dari langit seringkali tak sampai ke kebun petani, Banjir datang lebih dulu, melumat jerih payah yang ditanam dengan harapan. Sementara di tempat lain, Selokan dibiarkan rusak air merambah ke rumah rakyat, janji perbaikan hanya tinggal di poster kampanye dan hitam diatas putih yang luntur dimakan waktu.


Di antara gemericik air hujan yang harusnya syahdu, terdengar jeritan rakyat kecil nelayan yang tak lagi bisa melaut karena laut telah dikeruk, buruh tani yang kehilangan tanah karena “pembangunan” dan anak anak sekolah yang belajar di ruang reyot, beratap bocor, ditemani dingin yang menetes dari langit dan perut yang lapar karena subsidi dipotong diam diam.

Hujan seharusnya nikmat. Ia datang dari langit yang suci. Tapi di negeri yang pincang oleh ketidakadilan, ia seperti jatuh dalam sistem yang rusak. Airnya jernih, tapi sampai ke bumi jadi keruh, karena mengalir melewati kebijakan yang kotor, rencana anggaran yang diselewengkan, dan tangan kekuasaan yang tega mengisap derita rakyat.

https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html

Komentar

Posting Komentar