Mereka Tidak Tau

Suara Kenyataan Kini di bisukan para Borjuis

Di zaman ketika kebisingan dianggap kebebasan, kita sedang dikelabui oleh tipu daya demokrasi semu. Kita diberi panggung untuk bicara, tapi tak diberi kuasa untuk didengar. Kita diajak berpartisipasi, tapi hanya dalam koridor yang ditentukan oleh mereka yang menggenggam modal dan kuasa.

Kenyataan hari ini bukan tidak ada. Ia hidup. Ia meronta. Tapi suara kenyataan itu dikunci rapat di ruang-ruang yang telah disterilkan dari kebenaran. Mereka para borjuis kontemporer tak lagi hadir dalam bentuk pemilik pabrik bertopi tinggi atau tuan tanah kolonial. Mereka kini hadir sebagai pemilik media, pemilik platform, pemilik algoritma, pemilik dana kampanye, pemilik narasi.

Mereka menentukan mana yang layak jadi headline, mana yang didorong jadi trending, mana yang dikubur dengan senyap. Suara-suara dari lapisan bawah buruh yang menuntut hak normatif, petani yang melawan perampasan tanah, mahasiswa yang menolak komersialisasi pendidikan dibingkai sebagai gangguan ketertiban. Mereka tidak diberi ruang. Dan ketika suara-suara itu memaksa masuk, mereka dilabeli “radikal”, “provokator”, atau “tidak tahu berterima kasih”.

Inilah bentuk sensor modern, bukan lagi penyensoran dengan tinta hitam di koran seperti zaman Orde Baru, melainkan invisible hand dari kapitalisme informasi yang menyaring, membentuk, dan menggiring opini publik untuk melayani status quo.

Di media sosial yang katanya arena paling demokratis kita menyaksikan paradoks tragis. Para pengguna sibuk menciptakan konten, tapi lupa bahwa algoritma-lah yang mengatur siapa yang layak viral. Mereka yang berbicara soal keadilan sosial tenggelam di antara video mukbang dan selfie yang difilter. Kapitalisme tak lagi hanya menjual barang, tapi juga membentuk selera, memonopoli perhatian, dan mengarahkan empati. 

Dalam dunia seperti ini, borjuis bukan hanya mereka yang punya pabrik atau tanah. Mereka adalah para pemilik infrastruktur realitas. Mereka membentuk narasi kolektif, mereka memilih mana penderitaan yang layak diberitakan, mana yang dibiarkan mati perlahan dalam sunyi.

Maka pertanyaannya, bagaimana kita melawan?

Kita tidak bisa hanya bergantung pada ruang-ruang yang mereka sediakan. Kita harus menciptakan ruang sendiri. Menulis, berbicara, berkumpul, membangun media alternatif, mengorganisir komunitas, dan terus memelihara nalar kritis. Karena ketika kenyataan dibisukan, tugas kita bukan hanya meneriakkannya kembali, tapi juga membongkar siapa yang membisukan, dan untuk kepentingan siapa.

Kita harus sadar bahwa keberpihakan itu bukan pilihan netral. Diam adalah posisi politis. Netralitas hanya menguntungkan penindas. Dan kenyataan yang terus-menerus disangkal hanya akan melahirkan generasi yang apatis—jika tidak kita dobrak sekarang.

Suara kenyataan memang dibisukan. Tapi ia belum mati. Ia hidup dalam dada-dada yang masih resah. Ia tumbuh di antara barisan yang tak sudi tunduk. Dan dari sanalah perubahan lahir, bukan dari atas, tapi dari bawah. Dari mereka yang tahu bahwa kebebasan sejati bukan sekadar bisa bersuara, tapi memastikan suara itu mampu mengguncang tatanan yang timpang.

https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html

Komentar