- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Tapi siapa yang menikmati surga itu hari ini?. Tentu bukan petani yang lahannya dirampas atas nama investasi, bukan buruh yang digaji rendah demi mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi di meja para pejabat.
Di negeri yang katanya kaya raya ini, kekayaan alam justru menjadi kutukan bagi rakyat kecil. Sawah diganti pabrik, hutan diganti kebun sawit, laut dikapling investor. Tanah-tanah adat dijadikan objek lelang, dan siapa yang menolak dicap melawan pembangunan.
Petani hanya dipanggil saat kampanye dan dilupakan saat konflik agraria pecah. Buruh hanya diberi panggung pada Hari Buruh, lalu diabaikan sepanjang tahun. Regulasi dibuat bukan untuk melindungi mereka, tapi untuk mempermudah investor masuk tanpa banyak tanya. UU Cipta Kerja contohnya dijual sebagai solusi, padahal isinya jerat.
Negeri ini terluka. Tapi lukanya tak berdarah, ia menganga di hati mereka yang digusur, dipaksa pindah, dipukuli aparat saat bertahan. Ia terasa di suara lirih ibu-ibu petani yang kehilangan mata pencaharian, di napas berat buruh pabrik yang tak tahu bagaimana membayar sekolah anak-anaknya. Dan lebih menyakitkan, kita diajarkan untuk diam. Di ruang kelas, tak ada pelajaran tentang keadilan struktural. Di media, suara rakyat sering dipelintir jadi kekacauan. Dan di mimbar kekuasaan, penderitaan rakyat kecil dipoles jadi statistik kemajuan.
Negeri ini memang masih hijau, tapi hijaunya adalah warna racun pestisida. Negeri ini memang masih ramai, tapi ramainya adalah suara mesin-mesin pabrik yang memekakkan telinga keadilan.
Kita hidup di tanah surga, katanya. Tapi siapa yang jadi malaikat? Dan siapa yang dikutuk?
https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar