- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Pulang bukan selalu soal tempat, kadang ia tentang keberanian menghadapi diri sendiri."
Di koran pagi ini, di antara iklan perumahan dan berita politik basi, ada satu kolom kecil berjudul: Anak Hilang. Wajah-wajah muda terpampang dalam foto hitam-putih, di bawahnya tertulis nama, usia, dan terakhir kali terlihat. Tak ada yang benar-benar memperhatikan. Kita terlalu sibuk menggulir layar, mengejar tenggat, atau mencaci kesalahan orang lain di dunia maya. Tapi wajah-wajah itu tetap ada—menatap kita dari senyap, memaksa kita bertanya siapa sebenarnya yang hilang?
Apa yang menyebabkan seorang anak hilang? Kita bisa bicara soal penculikan, perdagangan manusia, atau kekerasan domestik. Tapi mari kita gali lebih dalam. Anak-anak hilang bukan hanya secara fisik. Mereka hilang dari ruang dialog, dari kurikulum sekolah yang tak mengenalkan empati, dari keluarga yang tak menyediakan pelukan, hanya tuntutan. Mereka hilang karena tumbuh di dunia yang terlalu keras, terlalu sunyi, dan terlalu sibuk menjadi sempurna.
Dalam tiap berita tentang anak hilang, tersembunyi tragedi yang lebih besar lenyapnya rasa saling menjaga. Kita hidup dalam masyarakat yang hanya peduli setelah bencana terjadi. Kita baru mencari ketika kehilangan sudah menampar wajah kita. Tapi adakah kita pernah sungguh-sungguh hadir sebelum itu? Sebelum seorang anak memutuskan kabur? Sebelum ia percaya bahwa tak ada rumah yang cukup aman untuk pulang?
Ada anak-anak yang hilang secara batin bahkan saat duduk di ruang tamu rumah sendiri. Mereka tersesat dalam tekanan akademik, dalam standar sosial yang kejam, dalam tubuh yang tak mereka kenal, dalam dunia orang dewasa yang tak pernah benar-benar mendengar. Dan tak sedikit dari mereka, akhirnya menghilang untuk selamanya—dalam diam, dalam luka yang tak sempat ditangisi.
Tulisan ini bukan hanya tentang mereka yang terdata dalam laporan polisi. Ini tentang kita semua anak-anak yang pernah merasa hilang dalam hidup ini. Yang berjalan menjauh dari rumah karena rumah tak lagi berarti tempat aman. Yang mengganti nama, menutup luka, dan berpura-pura kuat. Yang tersesat dalam labirin pencapaian, ekspektasi, dan ketakutan gagal menjadi “orang”.
Mungkin sudah waktunya kita tak hanya bertanya di mana mereka terakhir kali terlihat, tapi juga apa yang tak sempat kita dengar dari mereka. Mungkin sudah waktunya kita membuka ruang-ruang aman, mendidik dengan kasih, mencintai tanpa syarat. Mungkin, sebelum ada anak yang benar-benar hilang, kita harus belajar lebih dulu bagaimana menjadi rumah yang bisa dipulangi. Dan jika kamu, yang membaca ini, merasa seperti anak hilang dalam bentuk apa pun ketahuilah kamu tak sendiri. Masih ada jalan pulang, meski langkahmu terseok. Dan dunia ini masih bisa diubah, meski perlahan.
Mulailah dengan mendengar. Dengan hadir. Dengan peduli. Karena kadang, yang hilang itu bukan hanya anak tapi juga kemanusiaan kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar