Mereka Tidak Tau

Pulang itu pergi

Ada sebuah tempat yang selalu menjadi pelarian saat kelelahan menyergap—bukan sebuah tempat fisik, tetapi lebih seperti sebuah pelukan hangat, senyuman yang tulus, dan percakapan yang menenangkan. Tempat itu adalah dia, seseorang yang menjadi alasan untuk pulang, tempat yang selalu aku rindukan setelah hari-hari panjang yang melelahkan.

Namun, sekarang tempat itu menjauh. Dia pergi, meninggalkan sebuah kekosongan yang sulit diisi. Rasanya seperti kehilangan arah, seperti kehilangan kompas yang selama ini membimbingku pulang.

Perpisahan ini bukan hanya tentang jarak yang memisahkan, tapi juga tentang perasaan yang tak lagi bisa direngkuh. Ada rasa sakit yang mendalam, ketidakpastian yang menghantui setiap langkah. Hari-hari terasa lebih panjang, lebih sunyi, dan malam-malam menjadi lebih dingin tanpa kehadirannya.

Aku mencoba mengingat semua momen indah yang pernah kita lalui bersama—tertawa di bawah langit malam, berbagi cerita tanpa henti, dan hanya duduk dalam diam, menikmati kebersamaan. Setiap kenangan terasa manis, namun juga menyakitkan, karena sekarang hanya menjadi bayangan yang memudar.

https://difandidivakara.blogspot.com/2025/09/blog-post.html

Komentar